Segenap Manajemen dan Staff Geraidesain mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1432 H Minal Aidin Wal Faidzin Taqabalallahu minnaa wa minkum 1432 H.

This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Koleksi Antik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Koleksi Antik. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Juli 2010

Komik Gundala - Pengantin Buat Gundala

Ketika kereta berhenti di stasiun Nganjuk, Sedhah dihampiri seorang pria berkacamata hitam dan menunjukkan secarik kertas. Isi kertas itu: “Jangan ribut! Aku membawa senjata! Ikutlah aku!!” Segera Sedhah mengikuti pria itu, sambil menerangkan ke teman teman kecilnya bahwa dia mau menemui seorang teman. Sedhah diapit 2 orang pria dan segera turun kereta. 2 Pria itu mengancam dan menggiring sampai ke sebuah mobil yang sedang menunggu.

Di kereta, teman2 ciliknya mulai gelisah apalagi setelah kereta mulai berjalan lagi. Mereka mencari cari Sedhah ke gerbong lain, Sancaka menjadi curiga, dia bertanya tanya dan akhirnya mengetahui ada 2 orang pria yang menghampiri Sedhah sambil menunjukkan secarik kertas.Dengan melihat isi tas Sedha, Sancaka mengetahui alamat rumah Sedhah di Yogya. Sancaka kemudian menenangkan mereka, setelah itu dia ke kamar kecil dan turun dari kereta sebagai Gundala. Gundala bergerak ke arah stasiun Nganjuk dan bertanya tanya ke petugas stasiun. Dari mereka Gundala mengetahui bahwa Sedhah bersama 2 orang pria telah pergi dengan sebuah sedan berwarna merah. Merasa sia sia mencari, Gundala akhirnya memutuskan pergi ke Yogya menemui orang tua Sedhah.


Di tempat lain, Sedhah yang diculik disuruh merekam suaranya dengan membacakan tuntutan penculik yaitu: uang tebusan 50jt dan formula RX7 AM. Kaset ini sampai ke bapak Sedhah, dia mendengarkan isi kaset bersama Gundala. Bapak Sedhah rupanya bersedia memenuhi tuntutan para penculik dan tidak mau ada campur tangan Gundala, karena dia takut nyawa anaknya jadi terancam. Formula yang diinginkan para penculik itu adalah formula awet muda.

Gundala menemui temannya, Nemo, di teater sandiwara Stemka. Dia mengajak Nemo untuk memata matai bapak Sedhah, dokter Aragani, dengan memakai mobil.

Di tempat penculik, Sedhah ditinggalkan berdua bersama Aleks dan Janarta. Sedangkan ketua penculik, Fuad, bersama Tumiran, menuju ke tampat lokasi di mana uang tebusan dan formula itu harus diletakkan. Seorang penculik lainnya, Kosmas, bertugas mengawasi kediaman dokter Aragani. Sampai sore mulai gelap. Fuad merasa curiga karena dokter Aragani belum juga datang. Dia menghubungi Kosmas, Kosmas kemudian bergerak menyelidiki sekeliling rumah Aragani. Dia memperhatikan sebuah mobil yang tampaknya mencurigakan.

Sebenarnya itu adalah mobil Nemo dan Gundala. Gundala yang mengetahui ada pria menuju mobilnya, berpura pura tidur. Untunglah Nemo memang sedang tidur. Kosmas segera melapor ke Fuad bahwa situasi aman.

Di tempat penculik, Sedhah berbincang bincang dengan Aleks. Aleks memberi makan Sedhah. Setelah selesai, dia kembali mengikat tangan Sedhah kebelakang kursi. Namun entah sengaja atau ceroboh, ikatannya agak kendor. Ketika malam, Aleks mendatangi Sedhah sambil menutupinya dengan selimut. Sedhah yang curiga akan niat buruk Aleks, berhasil melepaskkan diri dan menghajar Aleks. Dia berteriak teriak, namun Janarta terlambat datang. Tetapi Janarta dapat melepaskan tembakan ke arah Sedhah namun meleset sehingga Sedhah dapat melarikan diri.

Fuad dan Tumiran sampai ke markasnya segera terperanjat karena Sedhah telah kabur. Aleks dan Janarta berdebat dan saling menyalahkan. Akhirnya Janarta-lah yang dituduh pengkhianat, dia ditembak namun hanya terkena tangannya saja. Janarta berhasil kabur.

Di tempat lain, Sedhah tanpa merasa lelah, lari ke arah puncak gunung Pandan. Sampai akhirnya dia terpelesat dan jatuh pingsan di dasar jurang. Anehnya, beberapa burung merpati bercahaya perak mengangkat tubuhnya dan membawa pergi ke sebuah istana di puncak gunung. Sedhah dibaringkan secara hati hati dalam sebuah ranjang. Istana itu adalah kerajaan Pantimas. Ketika siuman, Sedhah diberitahu Sri Ratu Shripaksi bahwa dia diangkat sebagai puterinya dan akan dijadikan seseorang yang mampu menumpas kejahatan di bumi.





Sedhah diberi sepasang gelang. Ketika terpasang, gelang itu menghilang ke dalam lengan Sedhah. Sedhah disuruh untuk menggosok2an lengannya, tiba tiba Sedhah sudah berubah kostum. Sedhah diberi nama Merpati yang disebut sebagai ratu dari segala burung di muka bumi. Kemudian, Sedhah diharuskan berendam dalam air 3 warna, masing2 warna dalam 1 hari.

Di rumah dr Aragani, dia akhirnya berangkat ke tempat yang ditentukan kelompok Fuad.

Dia dibuntuti Kosmas yang juga dibuntuti Gundalan dan Nemo. Dr Aragani sampai ke tempat yang ditentukan, ketika dia memperlihatkan isi koper dan formulanya, Kosmas memukul tengkuknya hingga pingsan. Gundala segera menolong tapi para penculik sudah kabur. Setelah membopong dr Aragani ke mobil, dengan mobil juga Gundala cs. mengejar para penculik. Sayang di sayang, Gundala terkena jebakan dan akhirnya mereka bertiga ditawan kelompok Fuad.

Merpati yang telah selesai berendam 3 hari 3 malam, akhirnya diberi ujian sebanyak 3 tahapan dan lulus. Akhirnya dia berangkat kembali ke Gunung Pandan dan kebetulan dapat menolong Junarta yang hampir jatuh ke dasar jurang. Dia membopong Junarta ke arah markas Fuad.

Di markas Fuad, dr Aragani memperagakan cara membuat formula awet mudanya. Setelah itu, kelompok Fuad segera pergi dengan membiarkan api menjalari markasnya. Gundala segera melepaskan rantai pengikatnya dan berusaha menolong Nemo dan dr Aragani dari kobaran api. Untunglah Merpati datang tepat waktu dan akhirnya mereka semua selamat. Kemudian dari keterangan Junarta, diketahui bahwa kelompok Fuad akan berkumpul di Hotel Rusa, Yogya.

Keesokan harinya, Gundala pergi ke hotel itu bersama Nemo. Sampai di hotel, Nemo menunggu di mobil dan Gundala mencari keterangan lewat resepsionis. Tumiran yang melihat Gundala segera pergi dengan membawa koper yang berisi uang tebusan dan formula. Nemo melihat Tumiran dan segera mencoba merebut koper tersebut. Tumiran menghajar habis2an, sampai kemudian teman2nya datang dengan sebuah mobil.

Tumiran akhirnya berhasil kabur, namun Nemo dapat mempertahankan koper itu. Gundala yang melihat bahwa kamar para penculik sudah kosong, segera lari menemui Nemo dan mendapatkan Nemo tergeletak. Bersamaan dengan itu, Merpati juga datang.

Nemo yang dibangunkan Gundala sempat marah2 karena Gundala tidak mendengar teriakan minta tolong darinya. Setelah suasana kembali tenang, Merpati dan Gundala janjian bertemu esok harinya di Taman Kota.

Esok harinya, Gundala yang sudah agak lama menunggu Merpati kemudian memutuskan berubah wujud menjadi Sancaka untuk “mengerjai” Merpati yang terlambat datang. Merpati akhirnya datang dan segera mencari2 Gundala. Sancaka datang menemui Merpati dan berhasil “mengompori” Merpati. Merpati kemudian disuruh menunggu Gundala. Gundala akhirnya datang menemui Merpati yang sedang ngambek. Setelah Gundala membujuk bujuk, akhirnya hati Merpati dapat mencair, setelah itu mereka dapat berunding.

Di markas para penculik, gara2 keki duit tebusan mereka direbut, mereka berencana membunuh Gundala. Gundala dan Merpati yang sedang kasmaran, menjadi lengah. Ketika suatu malam mereka sedang ngobrol di taman, seorang kakek menitipkan bungkusannya ke Gundala, dengan alasan mau membeli tembakau. Untunglah Gundala dapat mendengar bunyi jam di bungkusan itu dan menyelamatkan dirinya serta Merpati pas beberapa detik sebelum meledak.

Beberapa hari kemudian, ketika mereka sedang berdiskusi, ada yang menembaki mereka. Gundala akhirnya dapat menemukan penembaknya. Namun cuman sebuah robot. Saat itu terdengar bunyi gemuruh petir dan angin menjadi kencang bagaikan topan badai yang menyedot tubuh mereka berdua. Setelah semuanya reda, mereka sudah berada di kerajaan Petir. Rupanya Kaisar Bronz sudah meminang Merpati lewat Sri Ratu dan diterima.

Gundala dan Merpati ditanya, apakah dengan wujud asli mereka, masih akan saling mencintai? Mereka menjawab iya, lalu mereka disuruh berdiri saling membelakangi. Kaisar Bronz dan Sri Ratu kemudian mengungkapkan wujud asli Gundala dan Merpati. Sancaka dan Sedhah yang sudah pernah bertemu jadi terheran heran dan malu malu (tapi mau).

Kaisar Bronz kemudian memberitahu, bahwa para penculik saat ini sedang berada di bukit Wijil dan mereka sangat berniat membunuh Gundala.

Di markas para penculik, mereka berniat untuk menculik Nemo. Karena merasa mereka bakal kewalahan menghadapi Gundala dan teman2nya yang superhero.

Gundala dan Merpati yang datang ke markas mereka, mendapati bahwa para penculik sudah pergi.

Memang, para penculik rupanya sedang menelusuri jejak Nemo dan akhirnya mereka mengetahui bahwa Nemo berada di gelanggang sedang latihan sandiwara. Segera mereka masuk gelanggang dan menodong sebuah pistol kepada Nemo dan rekan2nya. Untunglah Nemo mempunyai teman seorang Yudoka, yaitu Dipto yang dapat menghajar Fuad dan membuang pistolnya. Melihat itu, Nemo dan teman2nya bergerak maju membantu Dipto. Hal ini membuat kelompok Fuad pergi kabur.

Karena merasa gagal terus, mereka berencana bersembunyi untuk mencari kesempatan yang bagus.

Dalam beberapa hari, tidak ada gerakan dari kawanan Fuad. Karena itu, akhirnya Sancaka dan Sedhah meresmikan hubungan mereka. Acara pernikahan mereka berlangsung sederhana dengan dihadiri sanak sodara dan sobat sobat terdekat. Setelah itu Gundala dan Merpati kembali melacak Fuad, c.s.

Di tempat lain, Maza, Godam, Aquanus, Sembrani dan pangeran Mlaar berbincang bincang tentang Gundala yang mempunyai pacar baru. Mereka kemudian menemui Gundala dengan maksud hendak mengenal pacar Gundala tersebut. Mereka kaget setelah mengetahui bahwa Gundala dan Merpati sudah kawin. Karena Gundala dan Merpati kawin dalam bentuk manusia asli, para superhero itu berencana membuat pernikahan lagi dengan bantuan Nemo dan membuat pengumuman serta menyebarkannya ke penjuru dunia.

Kabar ini sampai kepada para hero Amerika, Afrika, Eropa dan Asia. Sampai Sun Go Kongpun yang sedang melayang duduk di tongkat saktinya, membaca berita itu serta ingin menyumbangkan acara wayang Potehi.

Tetapi para penjahat yang sangat dendam terhadap Gundala juga mendengar berita itu. Termasuk Pengkor dan Gazhul yang segera merencanakan pembunuhan Gundala. Fuad dan kawan2nya juga segera merencakan meledakkan acara pernikahan Gundala.

Di rapat panitia pernikahan Gundala, para superhero saling berbagi tugas untuk mengamankan acara pernikahan itu.

Fuad segera mengirimkan seorang anak buahnya untuk memasang bom dengan berpura pura menjadi anggota dekorasi. Akhirnya dia berhasil memasang bom dan keluar tanpa dicurigai. Satu bom lagi akan dikirimkan lewat orang lain. Sehingga direncakan akan ada 2 buah bom yang meledakkan acara pernikahan itu.

Pada saat hari “H”, para tamu banyak sekali yang berdatangan. Sembrani ditugaskan untuk memeriksa semua bingkisan yang sedang dibawa para undangan. Ketika seorang wanita muda membawa kado, Sembrani dapat mendeteksi adanya bom di dalam kado tersebut. Segera dia mengamankan wanita berikut kadonya itu. Wanita itu langsung diinterogasi dan ternyata dia disuruh 2 orang pria, bom dalam kado dapat dijinakkan Sembrani.

Di luar gedung, pangeran Mlaar dan Untara melihat sebuah mobil yang mencurigakan. Mereka dapat mendengar pecakapan di dalamnya. Ternyata mereka adalah Fuad dan 2 rekannya yang menyebutkan bahwa 3 menit lagi akan terjadi ledakan, Ciri2 mereka sesuai dengan keterangan wanita yang membawa kado bom. Segera pangeran Mlaar beraksi dibantu Untara. Aksi mereka dapat meringkus 3 orang itu. Fuad yang diancam Pangeran Mlaar, kemudian menyebutkan lokasi 2 bom. Tetapi dia tertawa saja, karena merasa bahwa para superhero tidak punya waktu untuk menjinakkan bom itu.





Memang ada sebuah bom lagi yang dibawa seseorang wartawan, bom itu diletakkan dalam sebuah kado. Dia menitipkan bungkusan itu kepada Nemo, karena sibuk Nemo lupa menyerahkannya ke Sembrani. Rupanya Gundala dan Merpati sudah datang setelah bebas dari kemacetan. Sehingga Nemo sibuk untuk mengumumkan kedatangan pasangan pengantin.

Segera para hadirin berdiri dan melihat pasangan Gundala dan Merpati dengan busana adat Jawa berjalan di tengah tengah mereka.

Untunglah wartawan itu kembali mengingatkan adanya kado yang dititipkannya ke Nemo. Seorang superhero meminta kado itu dari Nemo dan menyerahkan ke Godam yang dapat terbang. Sehingga bom itu meledak di angkasa. Ledakan itu membuat para hadirin dan pasangan pengantin kaget.

Tiba tiba Sun Go Kong membuat kehebohan dengan meledakkan kursi pengantin. Lalu dia menciptakan kursi pengantin baru yang lebih indah dengan tongkatnya. Untunglah Sun Go Kong meredakan suasana dengan mengumumkan bahwa itu adalah pertunjukan sulap. Segera terdengar gemuruh tepuk tangan para undangan.

Kepada teman2 superhero, Sun Go Kong mengatakan bahwa dia menghancurkan kursi karena ada seprei beracun beracun buatan Pengkor dan Ghazul. Namun dia tidak berhasil menangkap 2 orang penjahat itu.

Akhirnya, para superhero dapat merayakan keberhasilan mereka mengamankan pernikahan Gundala dan Merpati. Acara pernikahan itu dapat berlangsung aman dan meriah. Para tamu juga dapat merasakan kebahagiaan Gundala dan Merpati. SEKIAN.

Komik Gundala – Jatuh Cinta



Terbit pertama kali pada tahun 1972, terdiri dari 4 Jilid. Kisah ini diawali dengan serangan puluhan tikus terhadap manusia. Tikus tikus ini dipimpin oleh seekor kucing yang tugasnya mengawasi bahkan mematikan sasarannya jika perlu. Gerombolan ini mengincar sesuatu, awalnya adalah sepucuk surat. Namun mereka sering menggangu ketentraman sehingga beritanya tersebar luas.

Sancaka (alias Gundala) bertamu ke rumah seorang wanita bernama Novita, mereka pernah berkenalan di sebuah toko buku. Di rumah itu Sancaka berkenalan juga dengan temannya, bernama Sakti (cewek juga). Sancaka rupanya jatuh cinta pada pandangan pertama setelah melihat Sakti. Setelah mendengar berita radio tentang serangan gerombolan tikus, Sakti buru2 pamit. Sancaka mengantarnya ke rumah yang beralamat jalan Melati 17.

Sampai di depan rumahnya, terdengar suara pria yang teriak kesakitan. Sakti segera masuk rumah dan melihat kakaknya, mas Surya, sedang diserang kelompok tikus. Sancaka segera berubah menjadi Gundala dan menolong dengan mengeluarkan petir. Pemimpin tikus2 tersebut adalah seekor kucing. Si kucing segera meminpin para tikus2 untuk kabur. Setelah aman, Sancaka masuk ke dalam. Hal ini membuat Sakti kurang bersimpati, karena menganggap Sancaka seorang pengecut. Sancaka melihat Surya sedang membuat sebuah penelitian di kamarnya. Ternyata Surya sedang meramu serum yang bisa membuat binatang jadi tidak terlihat. Tetapi setelah beberapa waktu kelinci percobaan itu jadi terlihat dan wajahnya jadi mengerikan dan akhirnya beberapa saat kemudian, mati.

Sancaka yang jatuh cinta jadi sering mengunjungi rumah Sakti, namun Sakti masih menjaga jarak walaupun ada sedikit ketertarikan. Suatu malam, Sancaka memberanikan diri untuk mengatakan isi hatinya, namun sebelum kata2nya keluar… ada teriakan dari Surya. Surya sedang diculik oleh segerombolan penjahat. Gundala kembali datang, tapi para penjahat itu segera melempar gas yang membuat langkah Gundala terhenti. Untungnya Surya tidak jadi diculik. Sakti kembali merasa Sancaka tipe pengecut, karena 2 kali kejadian tetapi yang muncul selalu Gundala. Sancaka seperti merasakan hal ini dan dapat menenangkan (alias merayu) Sakti.

Sejak kejadian itu Gundala selalu berjaga jaga, namun dia kecolongan. Langkahnya dihentikan kelompok tikus, kucing dan anjing. Hal ini membuat Gundala sangat kerepotan dan para penculik berhasil menjalankan tugasnya. Surya berhasil diculik. Kemudian, Gundala berbincang bincang dengan Sakti dan menanyakan Sancaka. Respon Sakti rupanya tidak menunjukkan simpati walaupun di dalam hati Sakti… berusaha mencintai Sancaka.

Gundala segera berpatroli dan berhasil menggagalkan sebuah misi kelompok itu dan menginterogasi seorang penjahat. Dia mengaku dari kelompok Tangan Iblis. Sebelum menyebutkan lokasi markas mereka, orang itu mati.

Surya yang bernama lengkap Profesor Suryana ternyata diculik gerombolan yang dipimpin Irphan. Irphan mencoba membujuk Surya untuk memberikan keterangan serum penghilang itu.

Di tempat lain Gundala berdiskusi dengan polisi dan menyimpulkan adanya 2 kelompok yang berbeda. Kelompok pertama adalah Ginto yang memimpin Telapak Iblis. Gundala beraksi ke markas Ginto, tetapi terkena jebakan ketika mendengar bahwa kelompok lain itu dipimpin Irphan. Gundala akhirnya bisa keluar dari jebakan ini namun gerombolan Telapak Iblis sudah menghilang.

Di tempat Irphan, karena Surya tidak mau bicara akhirnya Irphan memutuskan untuk menculik Sakti.

Gundala yang sedang menjaga tempat sakti, melihat 2 orang mendatangi rumah Sakti pada tengah malam. Secara mendadak Gundala menyerang mereka, dan menginterogasi salah satunya. Dia mengaku kalau disuruh menculik Sakti oleh Prof. Irphan. Belum banyak bicara, temannya yang lain dapat memukul tengkuk Gundala hingga tersungkur. Mereka segera melarikan diri dengan mobil. Gundala setelah sadar secepat kilat mengejar mobil itu dan berusaha menahan lajunya. Mobil itu terseok seok sebelum akhirnya terjatuh dan meledak.

Di markas Telapak Iblis, Ginto baru sadar bahwa yang dia jebak adalah Gundala dan telah melarikan diri dari jebakan. Dari anak buahnya, Ginto mengetahui rencana penculikan Sakti oleh Irphan. Maka mereka berniat lebih dulu menculik Sakti, lalu meminta tebusan ke Irphan.

Sancaka yang sedang di rumah Sakti, memberitahu bahwa menurut “temannya” yang seorang detektif, penculik Surya adalah Irphan. Ketika pembicaraan mulai hangat, Sancaka tidak dapat menahan diri untuk mengatakan bahwa dia mau melamar Sakti. Karena sikap Sakti yang bertambah bingung, Sancaka memilih pergi. Namun ada beberapa orang yang datang bertamu untuk menemui Sakti dengan membawa sepucuk surat. Ternyata mereka malah menculik Sakti, Sancaka yang dikeroyok tiga orang tidak dapat berbuat banyak. Pingsan.

Setelah siuman , ternyata ada kelompok lain yang mau menemui Sakti, Sancaka berkata bahwa Sakti sedang berjalan jalan bersama Gundala. Ternyata kelompok itu mau menculik Sakti juga dan tidak puas akan jawaban dari Sancaka. Sancaka habis dihajar, sampai pingsan lagi.

Di tempat lain Sakti sedang diberitahu bahwa dia sengaja diculik. Mereka adalah teman teman detektif Sancaka, walau mereka menghajar Sancaka. Karena itu kata mereka adalah sandiwara untuk mengamankan Sakti dari penculik yang sebenarnya. Sakti walaupun bimbang, terpaksa percaya saja.

Di tempat Irphan, dia memarahi anak buahnya atas kegagalan menculik Sakti. Saat itu, adasurat yang dikirim oleh sebuah panah. Isinya adalah: Telapak Iblis meminta tebusan sebesar Rp 25jt untuk Sakti. Tempat bertemunya ada di Kaki Gundukan di Selatan Tikungan Merah.

Gundala yang menyelidiki markas Ginto, berhasil menyelamatkan Sakti.

Ginto yang akhirnya mengetahui Sakti sudah hilang tetap berniat mengambil uang tebusan. Walau ini berarti perang terbuka, karena Sakti sudah tidak ada. Di tempat yang ditentukan, prof Irphan dan kelompoknya sudah bersiap dengan senjata lengkap, begitu juga kelompok Ginto. Mereka masing2 bersembunyi di balik batu batu besar. Ketika anak buah Irphan menyerahkan uang, kelompok Ginto mulai menembak. Terjadilah perang senjata.

Ketika perang senjata berlangsung seru, salah satu anah buah prof Irphan mendeteksi adanyaderu mobil menuju tempat itu, sehingga Irphan dan kelompoknya segera melarikan diri. Kelompok Ginto mengira mereka telah menang dan mencoba mengambil uang. Ternyata mereka telah dikepung polisi dan Gundala, akhirnya mereka menyerahkan diri.

Setelah aman, kelompok Irphan segera mengalihkan sasarannya ke rumah Sakti. Karena mereka mengetahui bahwa Sakti ternyata sudah tidak di tangan kelompok Ginto. Sampai dekat rumah Sakti. Mereka berusaha mengalihkan perhatian pengawal rumah Sakti dan berhasil mengelabui tentara dan menculik Sakti.

Gundala yang baru tiba di rumah Sakti melihat para pengawal tergeletak. Untunglah sebelum mobil para penculik menjauh, Gundala dapat membuntutinya.

Di tempat Irphan, Surya terpaksa menuruti permintaan Irphan karena Sakti diancam akan dikuliti (sadis…). Bersamaan dengan itu Gundala mendobrak ruangan laboratorium. Anak2 buah Irphan segera memberikan perlawanan. Irphan masih berhasil menghajar Surya dan Sakti lalu mengurung mereka di ruangan kaca. Selain itu, terjadi juga pemberontakan ilmuwan yang pro dan kontra Irphan. Melihat ini Irphan segera mengeluarkan semua binatang2nya. Suasana yang kacau balau ini diperparah dengan kobaran api yang makin besar.

Irphan yang tidak mengetahui efek berbahaya serum Surya, segera menyuntikkan dirinya dengan serum yang membuat dia tidak terlihat. Sasarannya adalah Gundala, Gundala cukup kewalahan menghadapi lawannya yang tidak terliihat itu. Tetapi berangsur angsur Irphan terlihat juga, dia berubah menjadi sosok raksaksa yang menyeramkan. Gundala akhirnya dapat mengakhiri pertarungannya dengan memukul jatuh Irphan ke kobaran api yang besar.

Di luar, polisi telah mengamankan situasi. Karena kobaran api mengganas, terjadilah ledakan ledakan yang maha dahsyat menghancurkan gedung. Sakti yang melihat itu jadi menangis hebat karena mengira Gundala mati.

Dari jauh, Gundala memperhatikan sikap Sakti, akhirnya sadar bahwa Sakti mencintai Gundala bukan Sancaka. Akhirnya Gundala berjalan gundah dengan melepas kain penutup wajah, sehingga wajah Sancaka terlihat. Dia merasakan kegagalan cinta dan memilih untuk melupakan rasa cintanya terhadap Sakti.

Akhir cerita, prof Suryana membakar dokumen2 tentang serum penghilang. Agar tidak membuat petaka dikemudian hari. TAMAT.

Komik Gundala - Lembah Tanah Kudus

Ini adalah kisah Gundala setelah seri Bulan Madu di Planet Kuning, terdiri dari 6 jilid diterbitkan tahun 1979. Jadi setelah rombongan pangeran Mlaar, Gundala & Merpati pergi meninggalkan planet Kuning, di planet Kovox tersebar berita munculnya sang pembaharu. Sang pembaharu mempunyai misi untuk mempebaharui sifat, fikiran dan mental spriritual para penduduk di planet Kovox. Dia menyebarkan berita itu di benua tiga tepatnya di lembah kudus.

Setibanya Gundala, dkk di planet Kovox mereka disambut secara meriah, namun para pembesar kerajaan tidak mau berlama lama menahan berita penting ini. Akhirnya setelah melihat pangeran Mlaar berbincang bincang santai dengan Gundala serta Merpati, salah satu menteri menemuinya dan berkata bahwa ada berita penting. Segera pangeran Mlaar mengadakan rapat dan mendengar kabar bahwa telah mucul sang pembaharu, pangeran Mlaar memutuskan untuk menemui langsung si pembaharu.

Bersama Gundala dan Merpati akhirnya pangeran Mlaar segera berangkat. Tetapi karena tidak diperbolehkan membawa kendaraan dari kerajaan (begitu katanya adat di sana – busyetttt…), mereka terpaksa mencari tiga kuda liar. Dan dengan menunggang kuda mereka berangkat ke Lembah Kudus. Belum lama berjalan, ada rombongan prajurit kaisar Bilos dan tawanannya yang berasal dari suku Byen. Gundala dan Merpati menyelamatkan para tawanan, sedangkan pangeran Mlaar menahan diri agar terhindar perang dengan kaisar Bilos. Setelah para prajurit “diamankan”, seseorang dari tawanan berkata bahwa ada teman temannya di pelabuhan dan rombongan mereka adalah yang terakhir. Para tawanan yang telah bebas kembali ke kampung mereka dan rombongan Gundala kembali melanjutkan perjalanan ke arah pelabuhan.

Mereka tiba di hutan Merana dan disambut oleh serangan binatang binatang buas. Setelah melakukan serangan serangan sengit, tiba tiba para binatang dihentikan oleh bentakan seseorang. Dia bernama Tiper, Gundala, dkk kemudian bermalam di kediaman Tiper. Mendengar kabar tentang sang Pembaharu, Tiper tertarik untuk menemuinya juga. Keesokan harinya mereka berangkat.

Sampailah mereka di daerah yang sangat berbahaya, namanya padang Darah Iblis. Segera mereka di sambut oleh beragam binatang purba yang benar benar menyeramkan dan kuat. Pangeran Mlaar, Merpati dan Tiper tidak bisa berbuat banyak, hanya Gundala yang menyerang dengan petirnya. Melihat situasi yang berbahaya, maka Gundala menutupi celah sempit dengan menembak tebing tebing. Sehingga reruntuhan batu dapat menghalangi binatang2 itu lewat.

Sesampai di pelabuhan, segera mereka secara gerilya membekuk para penjaga danmembebaskan para tawanan. Dengan perantara para prajurit yang tertawan mereka berhasil mengkudeta dua buah perahu besar. Setelah berlayar beberapa lama, mereka dihadapkan 2 pilihan: memakai jalur cepat tetapi menghadapi armada perang Bilos atau memakai jalur perairan laut perawan. Akhirnya mereka memutuskan untuk mengundi dengan melempar coin. Dan pilihannya adalah melalui perairan laut perawan. Ternyata di perairan perawan ini ada mahluk2 raksaksa. Gundala lalu dibawa terbang Merpati untuk memancing mahluk2 itu dan berhasil.

Aksi mereka diketahui tentara patroli Bilos yang memakai helicopter. Setelah Kapal rombongan Gundala berlabuh di Benua ketiga, mereka dihadang oleh tentara Bilos yang dipimpin kapten Pino. Kapten Pino ini telah terpengaruh oleh ajaran baik sang Pembaharu dan tidak tega menyerang rombongan Gundala. Dengan alasan banyak korban yang diakibatkan petir Gundala, dia akhirnya kembali ke Istana. Wakilnya Theoz berusaha menjilat Kaisar dengan mengkambinghitamkan (panjang ya…) Pino. Setelah dilerai, Theoz ditugaskan untuk memata matai Pino.

Kerajaan Ramos yang dipimpin kaisar Bilos kemudian menugaskan Jenggez untuk menumpas habis Gundala, dkk serta pembaharu dan seluruh pengikutnya. Tetapi Pino kemudian diam diam menemui sang Pembaharu yang saat itu sudah berkumpul dengan Gundala, dkk. Dia menceritakan rencana kaisar Bilos. Sehingga serangan Jenggez bisa dicegah dan dipatahkan kelompok perlawanan yang dipimpin pangeran Mlaar sebelum tentara yang dipimpin Jenggez menemukan sang Pembaharu.

Theoz semakin gusar karena merasa Pino yang membocorkan rahasia itu, dia kemudian semakin ketat menjaga Pino. Akhirnya sewaktu Pino dan istrinya Vulanea (puteri kaisar Bilos) diam diam mau menemui sang Pembaharu, Theoz dapat mencegatnya, walau Pino melawan dan dibantu Gundala serta Merpati (yang kebetulan lewat). Karena Theoz dapat menawan Vulanea, maka gundala, Merpati dan Pino dapat ditangkap dan dipenjara begitu juga Vulanea (karena dia percaya ajaran sang Pembaharu).

Sejak itu banyak pengikut pembaharu ditangkap, hingga sang pembaharu merasa “saat”nya sudah tiba.

Di dalam penjara, masih ada prajurit yang setia terhadap Pino. Dengan bantuan denah penjara maka Gundala, dkk dapat bebas. Bersamaan pada saat itu pangeran Mlaar dapat menghimpun banyak orang untuk memberikan perlawanan. Sebenarnya kaisar Bilos hendak menghukum mati Gundala, dkk serta pengikut Pembaharu dengan memberikan mereka sebagai tontonan (mirip gladiator) melawan singa2 jurang Iblis.

Pembaharu ditemani Tiper, menyusup kedalam istana secara diam2, walau akhirnya hanya pembaharu yang masuk ke dalam istana. Tiper diminta untuk tinggal diluar. Peperangan masih berlangsung imbang dan hebat, sampai akhirnya sang Pembaharu menyuruh para pengikutnya untuk meninggalkan kota Ramos karena kota itu akan hancur rata dengan tanah. Setelah para pengikutnya berlarian ke luar kota maka pembaharu mengikat tangannya ke tiang dengan rantai.

Dengan meminta kekuatan yang Maha Tinggi dia dapat mematahkan tiang2 istana dan merubuhkan seluruh kota. SELESAI.

Komik Gundala - Bulan Madu di Planet Kuning



Saya punya seri Gundala ini dengan dua cover yang berbeda. Seri ini dimulai dengan kisah Sancaka sebagai pengantin baru, berunding dengan istrinya Sedah mengenai tujuan bulan madu mereka. Sancaka berkata asalkan tidak keluar negeri, maka Sedah memilih kota Brastagi. Kota Brastagi adalah nama kota di dataran tinggi Sumatera Utara, yang terkenal akan hawa sejuk dan buah Jeruk.

Mereka juga membicarakan mengenai pembelian tanah di jalan Mawar, dan rencana ini didukung ayahnya Sancaka bahkan mau membantu masalah dana. Namun ketika Sancaka dalam perjalanan menuju jalan Mawar (lihat), dia bertemu pangeran Mlaar (yang tubuhnya bisa melar) yang menyelamatkan seorang anak yang tergantung di pohon ketika mengambil layangan. Di sana pangeran Mlaar yang hendak kembali ke planet Kovox (tempat dia berkuasa), mengajak Sancaka (Gundala) dan istrinya Sedah (Merpati) berbulan madu di planet Kovox. Setelah setuju dengan rencana Mlaar, mereka berangkat dengan menggunakan pesawat roket. Namun karena menghindari sekolompok binatang luar angkasa, pesawat mereka mengalami sedikit gangguan. Dan akhirnya mendarat di sebuah planet yang mayoritas berwarna kuning.

Ternyata planet ini berpenghuni manusia juga, yang sedang mengadakan perlawanan menghadapi penjajah dari bangsa planet lain yaitu bangsa Ming dari planet Keong. Awalnya planet Kuning hidup makmur di tanah yang hampir semuanya subur, hal ini menarik keinginan dari bangsa bangsa di planet lain untuk mendiami tanah yang kosong. Mereka diterima dengan tangan terbuka.Setelah bangsa Ming menjadi kuat, mereka malah menguasai bangsa di planet Kuning. Dan menjajah mereka. Tidak ada yang berani melawan kecuali kelompok yang dipimpin Rentha, Awalnya Gundala, dkk tidak mau ikut campur masalah ini, tetapi langkah mereka dihadang prajuri Ming. Mereka berhasil mengalahkan prajurit2 itu dengan bantuan kelompok Rentha. Akhirnya Gundala, dkk bergabung dengan kelompok Rentha ini.

Untuk menghimpun kekuatan, Rentha dibantu anaknya Godril. Gundala, dkk juga membantu dengan cara membuat pertunjukan. Gundala lalu menyamar jadi dukun peramal dan berusaha membangkitkan semangat juang bangsa Kuning. Pada saat perlawanan perlawanan mulai mendesak tentara Ming, raja Ming meminta Gundala, dkk sebagai dukun peramal untuk datang ke Istana. Raja Ming meminta tolong agar dukun ramal (gundala) mau memberikan nasehat2 untuk menghentikan perlawanan.

Gundala akhirnya dapat mengetahui kelemahan pertahanan istana dan melarikan diri untuk bergabung dengan Rentha. Namun sayang, ada pengkhianat di kelompok Rentha. Yaitu Gembor, yang menarik hati Kenise (sahabat akrab Godril) sehingga Gembor bisa masuk kelompok Rentha. Gembor membuat para prajurit perlawanan pingsan oleh racun yang dia masukkan ke makanan. Akhirnya dengan bantuan Mlaar yang membawa binatang binatang buas (yang dia buat mabok dengan memberi makan jamur), kerajaan Ming dapat dihancurkan. Dan bangsa Kuning merdeka.

Dalam seri ini Merpati (yang bisa terbang) kurang mendapat peran penting, mungkin karena masih pengantin baru ye… hi hi hi…. Di bawah ini foto cover belakangnya


Komik Gundala - Pangkalan Pemunah Bumi

Ini salah satu koleksi komik Gundala saya, diterbitkan UP. Prasidha, Jakarta tahun 1977. Pada seri ini Sancaka alias Gundala bertemu pertama kali dengan Sedah (kemudian menjadi istrinya) di Kota Surabaya. Ternyata Sedah jago bela diri dan menolong seorang ibu dari copet. Melihat ini Sancaka membayangkan jika gadis ini menjadi pendamping Gundala.

Ternyata ada sekolompok penjahat - Kala Merah yang tertarik untuk menculik Sedah, mereka mencegat Sedah. Tetapi Sedah terlalu tangguh untuk ditaklukkan, namun ada pria bernama Joko yang menghajar kelompok penjahat itu. Sebenarnya Joko adalah anggota kelompok Kala Merah juga ( menurut saya upaya Joko ini agar teman2nya bisa melarikan diri ).

Dia berusaha mengambil hati Sedah untuk kemudian membujuk untuk bergabung. Karena susah, maka dia berusaha menculiknya. Tetapi ketika hampir saja diculik ada Gundala yang menolong, karena Sancaka diam diam mengintai Sedah.

Di sisi lain seri ini juga mengisahkan petualangan Kalong dan teman temannya (masih anak2 semua), yang diculik oleh Kala Merah. Mereka akhirnya dapat melarikan diri dan terdampar di sebuah pulau. Kalong ini bisa terbang dengan sayap menyerupai sayap kekelawar dan bisa berbicara dengan binatang. Dia mencari Gundala untuk menolong teman2nya yang terdampar.

Gundala, Kalong dan Sedah berusaha menolong anak anak itu, tetapi mereka telah dibawa kembali oleh kelompok Kala Merah. Kala Merah adalah organisasi penjahat yang diketuai oleh Pengkor dan mempunyai dua orang kepercayaan yaitu Eng Sie Hong -ahli silat yang juga bertugas mengedarkan Narkoba. Kemudian Wahkiatestu yang bertugas merusak generasi muda dengan teknologi&informasi (iptek kali ye...).

Kala Merah yang dipimpin Pengkor ini bermarkas di Pangkalan Pemunah Bumi (sebuah pulau), dengan tujuan hendak membuat dunia kiamat dan kemudian membuat suatu kehidupan yang sesuai dengan keinginan Pengkor. Caranya, dengan membuat semacam peluru kendali yang berisi gadis gadis (uhuyyy... aya2 wae).

Gundala, Kalong dan Sedah lalu mencari anak anak sampai ke tempat proyek Pangkalan Pemunah Bumi. Namun sial, mereka akhirnya tertangkap satu per satu. Akhirnya karena keahlian Kalong dalam berbicara dengan binatang maka mereka dapat mengalahkan musuh dan mendatangkan polisi.

Komik komik lama biasanya ada iklan di halaman cover belakang. Ini adalah iklan yang terdapat di cover belakang Gundala - Pangkalan Pemunah Bumi.

KOMIK GUNDALA


Komik yang dibuat oleh Hasmi ini menceritakan seorang SuperHero bernama Gundala. Karya Gundala pertama kali diterbitkan pada tahun 1969 dengan judul Gundala Putra Petir. Dimana dikisahkan awal mula seorang ilmuwan bernama Sancaka yang sedang bereksperimen menciptakan anti petir.

Tetapi karena terlalu sibuk dengan eksperimennya, kekasihnya Minarti memutuskan tali asmara mereka. Sancaka berlari dalam hujan deras karena pedih hatinya. Malang nasib Sancaka, karena petir menyambarnya hingga koma.

Tetapi Kaisar Kronz yang berasal dari planet lain menarik Sancaka ke planetnya dan menyembukan serta kemudian mengangkat Sancaka menjadi anaknya. Kaisar Kronz juga memberikan dua kekuatan super yaitu

1. Kemampuan berlari secepat kilat
2. Bisa mengeluarkan sinar petir dari tangannya

Namun karena Sancaka tidak mau jika orang mengetahui dia memiliki kemampuan super, maka dia mengenakan kostum superhero yaitu:

1. Pakaian super ketat berwarna hitam dan menutupi kepada
2. Sarung tangan dan sepatu (seperti sepatu boot) berwarna merah
3. Ikat pinggang berwarna kuning
4. Bulu seperti sayap merpati putih di samping telinganya

Dia bertempat tinggal dengan orang tuanya di Yogyakarta sampai akhirnya ketika sudah menikah dengan Sedhah Esti Wulan (Merpati), Sancaka membeli tanah dan membangun rumah di jalan Mawar.

Daftar seri Gundala :


1. Gundala Putra Petir (1969)
2. Perhitungan Di Planet Covox (1969)
3. Dokumen Candi Hantu (1969)

4. Operasi Goa Siluman (1969)

5. The Trouble (1969)

6. Tantangan Buat Gundala (1969)
7. Panik (1970)
8. Kunci Petaka (1970)
9. Godam vs Gundala (1971)
10. Bentrok Jago-jago Dunia (1971)
11. Gundala Jatuh Cinta (1972)

12. Bernafas dalam Lumpur (1973)

13. Gundala Cuci Nama (1974)
14. 1.000 Pendekar (1974)
15. Dr Jaka dan Ki Wilawuk (1975)

16. Gundala Sampai Ajal (1976)

17. Pangkalan Pemusnah Bumi (1977)
18. Pengantin Buat Gundala (1977)
19. Bulan Madu di Planet Kuning (1978)
20. Lembah Tanah Kudus (1979)
21. Sang Senapati (1979)
22. Istana Pelari (1980)
23. Surat dari Akherat (1982)

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More